Satgas Sebut Masyarakat di 12 Wilayah Masih Abai Protokol COVID-19

VIVA – Koordinator Awak Pakar dan Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito prihatin karena masih ada 13 kabupaten/kota atau 2, 5 persen dari seluruh daerah di Nusantara dengan presentase kesembuhan kurang sebab 25 persen.

Bila dilihat kasus sembuh, daerah paling timur dan paling barat dengan memiliki tingkat kesembuhan yang menyesatkan rendah. Hal itu dapat terjadi belum masifnya testing atau penjagaan atau laboratorium serta fasilitas kesehatan tubuh yang belum maksimal untuk pasien COVID-19.

Kini terdapat 12 kabupaten/kota yang memiliki kejadian aktif lebih dari 1. 000, yaitu Kota Padang di Sumatera Barat sebanyak 3. 306, Jakarta Timur 2. 663, Kota Jayapura di Papua 2. 202, Jakarta Selatan 2. 047, Jakarta Barat 1. 951, Kota Pekanbaru pada Riau 1. 885, Kota Bekasi di Jawa Barat 1. 731, Kota Depok di Jawa Barat 1. 595, Kabupaten Bekasi dalam Jawa Barat 1. 287, Jakarta Utara 1. 275, dan Jakarta Pusat 1. 024.

Ke-12 kabupaten/kota tersebut konsiten masuk dalam daftar kejadian aktif di atas 1. 000. Yang berbeda setiap minggunya peringkat dari kabupaten/kota itu. Di pekan ini, Kota Padang peringkat baru dengan jumlah kasus aktif, yaitu 3. 306 kasus.

“Satgas mengigatkan kepada pemerintah daerah bahwa hal ini bukalah hasil. Masuknya kabupaten dan kota di dalam daftar ini menunjukkan bahwa masih abainya masyarakat terhadap protokol kesehatan tubuh, ” kata Wiku dalam jumpa pers tentang perkembangan dan penanangan COVID-19 dan tanya-jawab media menggunakan online di Jakarta, Kamis, 29 Oktober 2020.

Pemerintah daerah, Wiku mengingatkan, harus mengevaluasi secara menyeluruh terhadap protokol kesehatan di daerahnya dan jangan kecil pun lengah. Terapkan disiplin protkol kesehatan pada masyarakatnya, optimalkan karakter satgas penangan COVID-19 di dearah untuk melakukan monitoring terhadap kedisplinan masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan tubuh.

Bagi masyarakat yang merasakan gejala COVID-19, Wiku meminta segera lakukan testing untuk me, astikan kesehetannya dan memperoleh perawatan apabila dinyatakan postif. Masyarakat juga harus bersifat terbuka untuk membantu dalam melakukan treatmen dan tracing. Kolaborasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk menekan angka kematian.

“Satu saja angka kematian akibat COVID-19 merupakan nyawa yang berharga dan harus dicegah, ” katanya.

Baca: Tingkat Kesembuhan COVID-19 Indonesia Lebih Agung dari Dunia