Prancis Larang Grey Wolves, Dituduh Bersekongkol dengan Erdogan

Prancis melarang kelompok sayap kanan Turki `Grey Wolves` melakukan kegiatan apapun sesudah mereka dituduh merusak dengan slogan pro-Turki di sebuah tembok peringatan genosida terhadap etnis Armenia pada dekat kota Lyon.

The Grey Wolves, sebuah organisasi internasional, dipandang bersekutu dengan Pemimpin Turki, Recep Tayyip Erdogan & diduga berada di balik pengerusakan itu.

Tembok keterangan itu diwarnai dengan grafiti pelit pada akhir pekan kemarin yang menyertakan inisial Erdogan.

Aksi pengerusakan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Prancis dan Turki tempat sengketa wilayah di Nagorno-Karabakh.

Pertempuran antara Armenia & Azerbaijan meletus di wilayah pegunungan Nagorno-Karabakh pada bulan September berserakan. Wilayah ini diakui secara internasional sebagai bagian dari Azerbaijan, namun dikendalikan oleh etnis Armenia.

Turki telah mendukung Azerbaijan dalam konflik tersebut.

Langkah untuk melarang kelompok Grey Wolves akan diajukan ke kabinet Prancis pada Rabu (03/11).

Larangan tersebut berarti bahwa kegiatan atau pertemuan apa pun oleh kelompok Grey Wolves dapat mengakibatkan denda atau hukuman penjara, kata Menteri Di Negeri Prancis Gerald Darmanin.

Karena grup tersebut adalah organisasi internasional, larangan tersebut hanya akan membatasi aktivitasnya di Prancis.

Lihat Juga

Gambar peringatan dalam luar Lyon menunjukkan grafiti kuning yang menampilkan nama Grey Wolves di samping huruf “RTE” berantakan untuk Recep Tayyip Erdogan.

Pekan lalu, empat karakter di luar Lyon terluka pada perkelahian antara tersangka nasionalis Turki dan warga Armenia yang memprotes Azerbaijan atas konflik Nagorno-Karabakh, taat kantor berita AFP.

Ketegangan antara Prancis dan Turki juga meningkat baru-baru ini setelah Presiden Prancis Emmanuel Macron beriktikad untuk mempertahankan nilai-nilai sekuler serta memerangi Islam radikal.

Menanggapi komentar Macron, Erdogan mengatakan presiden Prancis membutuhkan pemeriksaan kesehatan tubuh mental.

Itu terjadi setelah guru bahasa Prancis Samuel Paty dibunuh usai menunjukkan tulisan kontroversial Nabi Muhammad kepada muridnya.

Penggambaran Nabi Muhammad dapat menyebabkan pelanggaran serius untuk kaum muslimin karena tradisi Islam secara eksplisit melarang gambar Muhammad & Allah (Tuhan).

Pekan lalu, Turki berjanji untuk mengambil “tindakan hukum dan diplomatik” untuk kartun Erdogan yang muncul pada sampul majalah Prancis Charlie Hebdo.

Kartun itu mencitrakan presiden Turki sedang mengangkat rok wanita berkerudung.