Kisah Brigjen TNI Pemberani, Bongkar Atap Markas Polisi Jepang

VIVA – Soekamto dilahirkan di Kampung Danukusuman, Solo, pada tanggal 28 Mei 1926. Tapi saat usianya belum genap satu tahun, namanya diganti menjadi Slamet. Karena saat kecil, Soekamto sering sakit-sakitan.

Seiring dengan bertumbuh dewasa, kiai Slamet menambahkan lagi nama pada belakangnya menjadi Ignatius Slamet Rijadi. Kemudian, nama itulah yang digunakannya hingga beranjak dewasa.

Berdasarkan catatan sejarah yang dihimpun VIVA Militer dari Museum TNI Rabu 9 September 2020, ternyata jiwa militer yang mengalir pada darahnya berasal dari sang abu. Karena sang ayah merupakan seorang perwira, bernama Idris Prawiropralebdo.

Meski terbilang memiliki sifat pendiam, tapi jangan lengah, Slamet memiliki sifat yang kasar dan juga pemberani. Dua kelakuan ini ditunjukkannya ketika adanya transisi kekuasaan, yang berlangsung di Solo oleh Jepang.

Jepang menduduki kerajaan yang dipimpin Suchokan Wanabe. Kemudian dua pemuda, menjadi perwakilan dari masyarakat yang ingin melakukan perundingan dengan pihak Jepang. Perundingan yang dilakukan Muljadi Djojomartono dan Suadi, berlangsung di Markas Kempeitai (polisi militer Jepang).

Tapi ketika dua pemuda itu tiba di Kempeitai, ternyata ada seorang yang sudah lebih dulu berhasil menerobos ke dalam markas. Markas Jepang pada saat itu, dikenal dengan penjagaannya yang begitu ketat.

Sehingga ketika ada seseorang yang berhasil menerobos masuk, tentu kejadian ini membuat pihak Jepang terjaga. Pemuda pemberani itu adalah Slamet Rijadi. Ia berhasil masuk Markas Kempeitai dengan meloncati tembok dan membongkar atap markas.

VIVA Militer: Brigadir Jenderal TNI Ignatius Slamet Rijadi

Di pulih sifatnya yang pemberani, ternyata Rijadi juga memiliki kepintaran di untuk anak-anak seusianya. Saat ingin melanjutkan sekolahnya ke Meet Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Afdeling B pada tahun 1940, ia terpaksa meninggalkan harapannya untuk melanjutkan sekolah. Karena di saat itu terjadi Perang Negeri II.

Slamet Rijadipun mengikuti kegiatan pertahanan Bumi Putera, meski usianya saat itu hangat 15 tahun. Ketika Jepang balik menduduki Indonesia, Negeri Sakura tersebut mulai membentuk pasukan militer.

Tentunya, Rijadi tidak ingin ketinggalan akan hal itu. Jadi, iapun memutuskan untuk mengikuti pelajaran di Sekolah Pelayaran Tinggi serta memperoleh ijazah navigasi. Selain itu, pria asal Solo juga lolos dengan predikat juara pertama.

Memiliki minat lebih di bidang kelautan, hal ini mendirikan RIjadi ingin mengikuti kursus tambahan. Usai lulus, Rijadi kemudian diangkat menjadi navigator pada kapal-kapal kayu yang berlayar di seluruh pulau Indonesia.

Menjelang Proklamasi Republik Indonesia, Rijadi yang memiliki perangai pemberani kembali melancarkan aksinya. Ia berhasil melarikan sebuah kapal kayu milik Jepang. Tapi usaha Jepang untuk menangkapnya, tidak pernah berhasil. Hingga Jepang menyerah kepada Federasi.

Tidak hanya meninggalkan sampai di situ, Rijadi pula berhasil menghimpun kekuatan perjuangan yang terdiri dari pemuda bekas Peta-Heiho atau Kaigun.

Karena keberhasilan dan keberaniannya dalam menghadapi Jepang, sesaat setelah terbentuknya Prajurit Keamanan Rakyat (TKR), ia pula diangkat sebagai Komandan Batalyon II Divisi X dalam usia dengan masih sangat muda yaitu 19 tahun.