VIVA – Banyak alasan mengapa seseorang memilih mengakhiri jalinan asmara tanpa tatap muka, tanpa komunikasi dan kejelasan apapun. Ini dikenal dengan istilah ghosting.

Dalam dunia perkencanan, ghosting bukan fenomena baru dan ini menjadi ‘strategi’ banyak pasangan untuk benar-benar putus. Namun terlepas dari alasan yang dilakukan pasangan yang melakukan ghosting, nyatanya tindakan ini berpotensi menciptakan ‘masalah’ baru.

Ghosting dapat membuat pasangan lain (yang menjadi korban ghosting) bingung, apakah jalinan asmaranya benar-benar berakhir atau tidak.

Meresahkan? Ya! Bahkan nggak sedikit orang yang dapat menyalahkan diri sendiri karena aksi putus satu pihak ini. Sebenarnya ghosting bisa saja nggak terjadi dalam sebuah hubungan, asal mengandalkan satu hal, yaitu kejujuran.

Ya, sebagian besar emosional melibatkan kejujuran. Ketika semua berjalan baik akan mudah untuk melakukan percakapan. Lalu apa yang harus dilakukan jika menjadi korban ghosting? Berikut cara positif yang bisa dilakukan seperti dikutip laman Very Well Mind:

Jangan Merasa Bersalah