Cerita Ngeri Perwira Wanita AS, Hampir Mati DIbom Garda Revolusi Iran

VIVA – Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dipastikan bakal semakin memanas. Rentetan peristiwa dengan melibatkan militer Negeri Paman Sam dan Garda Revolusi Iran (IRGC), seakan memicu konflik kedua negara ke epiosde selanjutnya.

Presiden AS, Donald Trump, melontarkan reaksi keras terkait agresi 11 kapal perang cepat milik Laskar Laut IRGC awal April berantakan. Trump menginstruksikan kepada militer GANDAR untuk menghancurkan kapal-kapal Iran kalau kembali melecehkan armadanya lagi.

Di sisi lain, penjelasan Trump juga diamini oleh Pentagon. Markas Departemen Perhananan AS (US Departement of Defense) siap mengerahkan kekuatannya untuk membalas aksi IRGC.

VIVA Militer: Pangkalan Udara Amerika Serikat (AS) Al Asad di Irak hancur

Momen ini kaya bagian lanjutan ketegangan hubungan AS dan Iran. Sebab sejak mula 2020, armada militer kedua negara kerap saling serang. Salah kepala yang terdahsyat adalah serangan peluru kendali yang dilancarkan IRGC ke Pangkalan Udara Militer AS Al Asad di Al Anbar, Irak, 7 Januari 2020 malam waktu setempat.

Dalam serangan yang dinamakan Operasi Martir Soleimani, sebesar 30 rudal balistik diluncurkan ke arah pangkalan itu. Meski tak ada korban tewas, pangkalan milik AS itu hancur lebur dan menurut laporan ABS News , 110 prajurit Bala Udara AS (US Air Force) mengalami cedera otak serius.

Salah seorang saksi mata yang ada pada serangan, Letkol Staci Coleman, mencuraikan peristiwa mengerikan itu. Coleman mengiakan sempat putus asa dan merasakan takkan selamat dalam serangan itu.

Lihat Juga

VIVA Militer: Mendiang Mayor Jenderal Qasem Soleimani

Di tengah dentuman bom yang mungkin bisa merenggut nyawanya, Coleman mengaku sempat mengontak keluarganya.

“Saya mencintai kalian, ” ujar Coleman saat menceritakan kesaksiannya dikutip Military. com .

“Saya menetapkan siapa yang akan hidup dan akan mati. Saya tidak yakin siapapun bisa bertahan dalam serangan rudal balistik. Dan, itu melaksanakan saya sakit dan tak bergaya, ” katanya.

Gempuran ini adalah balasan yang dilakukan IRGC, pasca tewasya Mayor Jenderal Qasem Soleimani, perwira tinggi IRGC, dan komandan Pasukan Quds. Sebab lima hari sebelum serangan tersebut, AS melakukan Serangan udara drone di Baghdad International Airport dengan menewaskan Soleimani.