3 Tahap Perubahan Perilaku Saat Mengikuti Fase New Normal

VIVA – Pandemi COVID-19 telah berlangsung selama beberapa bulan dan pemerintah Indonesia telah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Kebijaksanaan PSBB telah mengubah kehidupan sehari-hari masyarakat, karena semua kegiatan dengan tadinya dilakukan di luar menjelma harus di dalam rumah.

Kamu pun diharapkan sanggup beradaptasi dengan situasi baru tersebut, meskipun secara psikologis tidak semoga.

“Pada umumnya, awak mengalami tiga tahap atau strata kondisi perilaku, yaitu tahap disrupsi, tahap kebingungan dan ketidakpastian, yang berujung pada tahap penerimaan, ” ujar Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa RS Jambar Indah–Puri Indah, dr. Leonardi Goenawan, Sp. KJ., dikutip siaran pers, Selasa 19 Mei 2020.

Pada periode disrupsi, seseorang akan mengalami mutasi pola hidup. Tidak sedikit yang mengalami kecemasan tinggi karena khawatir tertular, sulit konsentrasi, yang lalu diikuti oleh perubahan pola santap dan pola tidur. Penyakit biut yang sudah lama dialami mulai kembali tidak stabil, termasuk gangguan-gangguan psikis yang sebelumnya pernah dialami.

Kemudian di tahap selanjutnya yaitu kebingungan, seseorang mau merasa kelelahan secara mental karena merasa tidak adanya kepastian, kehilangan kendali, dan terhentinya sumber bayar untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Kualitas hidup dengan sendirinya menghunjam, berbagai hal yang biasa dengan semoga terpenuhi, saat ini menjadi absurd.

“Kehidupan berjalan lelet, penuh kejenuhan, dan kekhawatiran. Status kecemasan ini dapat meningkatkan penggunaan rokok, alkohol, dan penyalahgunaan obat yang mungkin pada awalnya dimaksudkan untuk meringankan beban pikiran, ” papar dokter yang juga praktek di RS Pondok Indah–Bintaro Jaya.

Terakhir, di tahap penerimaan dengan standar wajar yang baru, timbul sikap tanggapan dengan diikuti oleh berbagai mutasi pola hidup dan kebiasaan. Kepandaian adaptasi seseorang membuatnya mampu untuk mengembangkan kebiasaan-kebiasaan baru dan memedulikan kehidupan dengan cara yang bertambah realistis.

“Mulai terbentuk gaya hidup ‘ stay at home’ , lebih diskriminatif dalam belanja. Lalu, ‘Back to basic’ dengan lebih banyak aktivitas yang dilakukan di rumah, munculnya kembali bahan-bahan tradisional untuk menjaga kesehatan, ” tuturnya.

Namun, dengan jalan apa jika tak semua orang dapat menerima dan malah berujung dengan stres? Pertama, kamu perlu untuk istirahat dari menonton, membaca, atau mendengarkan berita, termasuk media sosial. Kedua, jaga kesehatan tubuh laksana berolahraga ringan secara teratur, santap makanan yang sehat dan serupa, juga tidur dengan waktu dengan cukup.

“Lakukan kaum aktivitas lain yang kamu sukai. Senantiasa terhubung dengan orang lain. Terakhir, memahami fakta yang sah dan benar tentang COVID-19 hendak membuat kamu terhindar dari stres berlebihan, ” kata dia.

Setelah kamu melewati tahap penerimaan dalam menghadapi pandemi, oleh karena itu kamu mulai terbiasa dengan suasana the new normal . Pada tahap ini diharapkan kamu sepenuhnya tidak lagi merasa terganggu, bahkan sudah mulai sejuk dengan semua perubahan yang mengenai dengan adanya pandemi.